Clock Magic Wand Quran Compass Menu

Mereka yang Ngoyo Kejar Kesenangan Justru Belum Tentu Bahagia

Kebahagian bukan terletak pada kesenangan dunia berupa harta dan jabatan

Red: Nashih Nashrullah
Rep: Muhyiddin
Berdoa untuk kebahagian hakiki. Ilustrasi. Kebahagian bukan terletak pada kesenangan dunia berupa harta dan jabatan
Republika/Putra M. Akbar Berdoa untuk kebahagian hakiki. Ilustrasi. Kebahagian bukan terletak pada kesenangan dunia berupa harta dan jabatan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengasuh Pondok Pesantren La Tansa Banten, KH Adrian Mafatihullah Kariem mengungkapkan pesan moral dari novel terbarunya yang berjudul Pangeran Tak Berharap Mahkota.

Menurut dia, pesan yang ingin disampaikan lewat nove terbitan Republika Penerbit ini adalah tentang perbedaan kebahagiaan dan kesenangan.

“Pesan moral, esensi dari yang ingin disampaikan dari Pangeran Tak Berharap Mahkota ini, beda antara bahagia dan kesenangan,” ujar Kiai Adrian dalam acara bedah buku Pangeran Tak Berharap Mahkota di di panggung utama Islamic Book Fair (IBF) 2022, Gedung JCC Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Scroll untuk membaca

Dia menjelaskan bahwa orang yang hanya mengejar kesenangan belum tentu mendapatkan kebahagiaan.

“Kalau kita berbicara maslaah bahagia pasti hidupnya senang. Tapi, kalau hanya mengejar kesenangan belum tentu kebahagiaan itu akan datang. Kemenangan akan hilang,” ucap Kiai Adrian di hadapan ratusan santrinya yang mengikuti bedah novel tersebut.

Kiai Adrian mengatakan, bahagia itu universal, bisa saja bahagia itu datang dari jabatan, dari rupa, dari kepintaran, dari harta. Menurut dia, bahagia itu adanya di jiwa yang ikhlas, bersabar, dan di jiwa yang mengikuti sebuah proses.

“Bahagia itu adalah cipta. Bahagia itu berwujud kasih sayang, bahagia itu wujud Tuhan, bahagia itu pasti akan meluluhlantahkan keangkuhan. Maka kebahagiaan kecenderungan bersandar pada ketenangan, tetapi kesenangan bersandar pada kesombongan,” kata Kiai Adrian.

Karena itu, menurut dia, orang yang berbahagia hidupnya pasti senang dan menyenangkan orang. Tetapi, lanjutnya, orang yang senang belum tentu bisa membahagiakan orang lain. “Itu sebuah pesan dan esensi dari buku ini,” jelas Kiai Adrian.

Dia menambahkan, terkadang kebahagiaan itu bisa diraih bukan dari rasa senang, tapi kebahagiaan itu diraih ketika kita sakit. Menurut dia, kebahagiaan itu diraih ketika kita lagi tertawa. Tetapi, kebahagiaan yang hakiki itu teraih dari sebuah kesedihan, diawali dari sebuah nyinyiran, fitnah, bulliying, dan sebagainya.

“Di situlah kebahagiaan akan muncul, jiwa besar akan tumbuh, maka dia akan meluluhlantahkan tembok-tembok kegagalan,” kata kiai novelis ini.

Novel ini ingin menegaskan bahwa kesempurnaan tidak terletak pada kerupawanan dan harta yang melimpah. Namun, fakta ini sering dikesampingkan, termasuk oleh Sultan, seorang pemuda kaya raya yang menjalani hidup bak pangeran dengan segala kemudahan dan kemewahan, tapi tak sepenuhnya bahagia.

Dengan kesederhanaan dan kebaikannya, gadis desa yang bernama Bunga itu kemudian hadir untuk melucuti keangkuhan Sultan. Namun, takdir memisahkan keduanya ketika bibit cinta mulai tumbuh. Dalam cerita novel ini, para pembaca akan mendapat pelajaran berharga untuk menjadi seorang lelaki sejati.      

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Berita Terkait

Naskah Khutbah Jumat: Jabatan

khutbah-jumat - 15 July 2022, 00:05

Naskah Khutbah Jumat: Hartaku dan Fir’aun

khutbah-jumat - 01 July 2022, 08:52

Kesalahan-Kesalahan Manusia Akibat Menaati Pelit dalam Diri Mereka

mozaik - 27 June 2022, 00:30

Alquran Diturunkan Agar Umat Manusia Bahagia, Bukan Sebaliknya

kajian-alquran - 27 June 2022, 00:15

 6 Harta yang Wajib Dizakati

wakaf - 28 April 2022, 10:01

Berita Rekomendasi

Video

>

Berita Terpopuler

>
hide ads show ads
desktop mobile