Clock Magic Wand Quran Compass Menu

Peneliti Kembangkan Rapid Test Identifikasi Varian Delta atau Omicron

Tes hanya mendeteksi fragmen materi genetik tanpa mengidentifikasi varian covid.

Red: Indira Rezkisari
Rep: Gumanti Awaliyah
Petugas kesehatan melakukan tes usap Covid-19.
REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA Petugas kesehatan melakukan tes usap Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebuah tim peneliti telah mengembangkan tes rapid Covid-19 yang bisa membantu mengidentifikasi berbagai varian SARS-CoV-2 hanya dalam beberapa jam. Setelah mengembangkan CoVarScan, tes rapid Covid-19 yang mendeteksi ciri khas dari delapan hotspot pada virus SARS-CoV-2, tahun lalu, tim tersebut sekarang mengujinya pada lebih dari 4.000 sampel pasien.

Para peneliti melaporkan bahwa tes mereka seakurat metode lain yang digunakan untuk mendiagnosis Covid-19. Tes juga dapat berhasil membedakan antara semua varian SARS-CoV-2 saat ini.

"Dengan menggunakan tes ini, kami dapat menentukan dengan sangat cepat varian apa yang ada di komunitas dan apakah varian baru muncul. Ini juga memiliki implikasi bagi masing-masing pasien ketika kita berhadapan dengan varian yang merespons perawatan secara berbeda,” kata peneliti Jeffrey SoRelle dari University of Texas Southwestern di AS, Ahad (3/7/2022).

Scroll untuk membaca

Dibandingkan dengan pengurutan seluruh genom, CoVarScan memiliki sensitivitas 96 persen dan spesifisitas 99 persen. Ini mengidentifikasi dan membedakan varian Delta, Mu, Lambda, dan Omicron, termasuk subvarian BA.2 Omicron yang dulu dikenal sebagai "stealth Omicron" karena tidak muncul pada beberapa tes yang dirancang untuk mendeteksi hanya strain Omicron.

Meskipun saat ini sudah tersedia tes Covid-19, mereka umumnya mendeteksi fragmen materi genetik SARS-CoV-2 atau molekul kecil yang ditemukan di permukaan virus dan tidak mampu mengidentifikasi varian virusnya. Namun di sisi lain, banyak peneliti khawatir bahwa tes CoVarScan tidak akurat dalam mendeteksi beberapa varian.

Untuk menentukan varian Covid-19 yang dimiliki pasien, para ilmuwan biasanya harus menggunakan sekuensing seluruh genom yang membutuhkan waktu lama, biaya mahal, serta mengandalkan peralatan dan analisis canggih untuk menguraikan seluruh urutan RNA yang terkandung dalam virus.

Pada awal 2021, SoRelle dan timnya ingin melacak seberapa efektif tes CoVarScan dalam mendeteksi varian SARS-CoV-2 yang muncul. Tetapi mereka menyadari bahwa mengurutkan banyak spesimen tidak akan tepat waktu atau hemat biaya, jadi mereka merancang pengujian mereka sendiri.

"Kritik umum dari tes semacam ini adalah bahwa hal itu membutuhkan penyesuaian konstan untuk varian baru, tetapi CoVarScan tidak memerlukan penyesuaian apapun selama lebih dari setahun; itu masih berkinerja sangat baik," kata SoRelle.

"Nantinya jika memang perlu disesuaikan, kita bisa dengan mudah menambahkan sebanyak 20 atau 30 titik api tambahan untuk pengujian," tambah dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Berita Terkait

ZOE: Sakit Kepala Jadi Gejala Covid-19 Paling Banyak Dialami Saat BA.4 dan BA.5 Dominan

info-sehat - 01 July 2022, 17:04

Mengapa Ada Banyak Subvarian Omicron? Ini Penjelasan Para Ahli

info-sehat - 29 June 2022, 08:42

Penambahan Kasus COVID-19 Terbanyak di DKI Jakarta

umum - 25 June 2022, 22:40

3 Gejala Covid-19 yang Terasa di Perut

info-sehat - 25 June 2022, 04:55

Kemenkes: Hasil WGS, 143 Kasus Terkonfirmasi BA.4 & BA.5

umum - 23 June 2022, 20:21

Berita Rekomendasi

Video

>

Berita Terpopuler

>
hide ads show ads
desktop mobile