Clock Magic Wand Quran Compass Menu

BPS Rilis Data Perekonomian Papua Barat Triwulan 1 2022 Kontraksi

Perekonomian di Papua Barat minus 1,01 persen dibandingkan periode sama tahun 2021.

Red: Erik Purnama Putra
Rep: Antara
Penumpang berjalan di depan posko angkutan umum Lebaran di Bandara Domine Eduard Osok (DEO), Kota Sorong, Provinsi Papua Barat, Kamis (28/4/2022). BPS melansir data, perekonomian di Papua Barat mengalami minus 1,01 persen.
ANTARA FOTO/Olha Mulalinda Penumpang berjalan di depan posko angkutan umum Lebaran di Bandara Domine Eduard Osok (DEO), Kota Sorong, Provinsi Papua Barat, Kamis (28/4/2022). BPS melansir data, perekonomian di Papua Barat mengalami minus 1,01 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, MANOKWARI -- Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat melaporkan kondisi perekonomian di provinsi tersebut pada triwulan I 2022 mengalami kontraksi atau minus 1,01 persen year on year (yoy) dibandingkan periode sama tahun 2021. Penyebab terjadinya kontraksi pertumbuhan ekonomi di Papua Barat dipicu turunnya kinerja beberapa sektor usaha penopang perekonomian.

Kepala BPS Papua Barat Maritje Pattiwaellapia mengatakan, beberapa sektor yang pertumbuhannya minus, seperti industri pengolahan -2,32 persen, pertambangan dan penggalian -4,31 persen, konstruksi -2,03 persen, serta sektor usaha administrasi pemerintah dan jaminan sosial wajib -0,12 persen. Di luar dari beberapa sektor itu, sambung dia, justru mengalami pertumbuhan positif.

"Sektor yang punya kontribusi terbesar terhadap perekonomian mengalami kontraksi yang dalam sehingga berdampak secara keseluruhan," jelas Maritje di Manokwari, Provinsi Papua Barat, Kamis (12/5/2022).

Scroll untuk membaca

Selain beberapa faktor itu, kata dia, masih lambatnya pertumbuhan ekonomi Papua Barat dipengaruhi oleh turunnya kinerja ekspor luar negeri sebesar 33,14 persen dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) turun 13,40 persen. "Impor luar negeri terkontraksi 43,32 persen. Peran impor dalam PDRB menurut pengeluaran sebagai pengurang, sehingga dimaknai positif terhadap penyusunan PDRB," jelas Maritje.

Apabila dibandingkan kondisi perekonomian pada triwulan IV 2021, kondisi ekonomi Papua Barat kini juga mengalami kontraksi 1,96 persen. Sementara dari sisi lapangan usaha, BPS Papua Barat mencatat hampir seluruhnya mengalami penurunan kinerja.

Di antaranya, industri pengolahan sebesar -1,62 persen, pertambangan dan penggalian sebesar -2,46 persen, konstruksi sebesar -2,71 persen, pertanian dan perikanan sebesar 1,92 persen serta lapangan usaha administrasi pemerintah dan jaminan sosial wajib sebesar -7,78 persen. Beberapa lapangan usaha yang kinerjanya tumbuh positif yaitu jasa keuangan dan asuransi, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, transportasi dan pergudangan, serta real estate.

Dari sisi pengeluaran, kontraksi terjadi pada sebagian besar komponen penyusun PDRB menurut pengeluaran. Kontraksi paling dalam disumbang oleh pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sekitar 44,53 persen, konsumsi pemerintah -38,62 persen dan ekspor luar negeri -34,58 persen. "Impor luar negeri juga mengalami kontraksi hingga 84,84 persen," ujar Maritje.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Berita Terkait

BPS: Kenaikan Harga Minyak Goreng dan Telur Ayam akan Picu Lonjakan Inflasi April

keuangan - 08 April 2022, 00:46

BPS: Mobilitas Warga di Lokasi Rekreasi Lebih Tinggi dari Sebelum Pandemi

keuangan - 01 April 2022, 17:00

Januari-April, Produksi Beras Nasional Diprediksi Meningkat dari 2021

keuangan - 01 March 2022, 14:24

Konsumsi Masyarakat Sumbang 52,9 Persen PDB pada Kuartal IV 2021

keuangan - 07 February 2022, 16:03

BPS: 5.511 Warga Kota Cirebon Menganggur Terdampak Pandemi

ciayumajakuning - 07 January 2022, 20:44

Berita Rekomendasi

Video

>

Berita Terpopuler

>
hide ads show ads
desktop mobile