Clock Magic Wand Quran Compass Menu

Makna Idul Fitri dan Lebaran

Lebaran berarti menjadikan diri kembali lapang dada, maaf-memaafkan

Red: Hasanul Rizqa
Idul Fitri (ilustrasi)
republika Idul Fitri (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof HM Baharun     

Sesungguhnya, hakikat hari raya Idul Fitri adalah perayaan kemenangan iman dan ilmu atas nafsu di medan jihad Ramadhan. Setelah berhasill menundukkan nafsu, kita dapat kembali ke fitrah. Kembali ke fitrah (Idul Fitri) berarti kembali ke asal kejadian.

Manusia terlahir tanpa beban kesalahan apa pun. Tiap insan lahir suci tanpa noda dan dosa. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda dalam sebuah hadis, "Setiap kelahiran itu adalah fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan (anak-anak mereka) Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi."

Scroll untuk membaca

Idul Fitri ini juga populer dengan sebutan Lebaran. Lebaran berasal dari akar kata lebar yang maknanya tentu agar di hari raya kita harus berdada lebar (lapang dada). Sifat lapang dada untuk meminta dan sekaligus memberi maaf (al-‘afwu: menghapus, yakni menghapus kesalahan) kepada sesama.

Sebagai manusia yang memiliki potensi untuk berbuat salah dan khilaf, maka saatnya kita menyadari kesalahan dan berusaha kembali ke fitrah dengan cara memperbaiki hubungan sesama (human relations) secara baik.

Hari raya Idul Fitri merupakan momentum untuk menyempurnakan hubungan vertikal dengan Allah (hablun minallah) dan secara horizontal membangun hubungan sosial yang baik (hablun minnannas). Dengan begitu, terbentuklah garis plus tanda positif (+) dari persinggungan antara yang vertikal dan horizontal tadi.

Sementara itu, dalam bahasa Madura, Lebaran/hari raya Idul Fitri disebut telasan. Itu dari akar kata ‘telas’ yang bermakna 'habis.' Jadi, telasan artinya 'habis-habisan' dalam melebur dosa, kesalahan, dan kekhilafan, baik terhadap Allah SWT maupun manusia sebagai sesama makhluk-Nya.

Makna telasan jangan sampai bergeser, yakni bukan mau habis-habisan melebur dosa dan noda, tetapi malah habis-habisan dalam memborong pakaian dan jajan Lebaran.

Alangkah ruginya jika umat Islam tak memanfaatkan mudik untuk mengonstruksi hablun minannas dengan saksama dan optimal.

Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan halalbihalal, yang merupakan tradisi khas bangsa, yang telah diwariskan oleh nenek-moyang sejak bertahun-tahun. Barangkali ‘lembaga’ ini bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk wadah silaturahim masyarakat.

Dengan catatan tidak mementingkan pesta dan hura-huranya, akan tetapi lebih mengutamakan pendekatan kekeluargaan yang diwarnai kasih sayang di antara sesama insan.

Semoga kita bisa dapat menjaga fitrah. Minal ‘aidin wal faizin (artinya: mudah-mudahan kita termasuk yang kembali ke fitrah dan jadi orang-orang yang sukses).

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Berita Terkait

Bantul Siap Sambut Wisatawan pada Libur Lebaran

kabar-ramadhan - 01 May 2022, 20:03

Hujan Deras Diprediksi Warnai Perayaan Idul Fitri di Bengkulu

sumatra - 01 May 2022, 20:01

Jalur Kalimalang Sudah Lengang dari Pemudik

kabar-ramadhan - 01 May 2022, 19:56

Ketum MUI: Patut Disyukuri Kita Rayakan Idul Fitri Serentak

kabar-ramadhan - 01 May 2022, 19:45

Kemenag Tetapkan 1 Syawal 1443 H Jatuh pada Senin

berita - 01 May 2022, 19:24

Berita Rekomendasi

Video

>

Berita Terpopuler

>
hide ads show ads
desktop mobile